Tren Perilaku Ramah Lingkungan

14 Desember 2010

Tren perilaku ramah lingkungan jadi fenomena populer di mancanegara. Hal itu terjadi sebagai dampak pemanasan global di seluruh dunia. Perhatian pemerintah, pengusaha, dan masyarakat berupaya menghindarkan dampak lebih besar dari perubahan iklim global. Pemerintah negara maju seperti Jepang, Inggris, dan Jerman membangun ecotown (kota ramah lingkungan) sebagai solusi pemanasan global.

Pemerintah Jepang sejak 1997 telah menyetujui pembangunan 26 kota ramah lingkungan. Salah satu ecotown tertua adalah Kota Kitakhusyu. Penulis memiliki kesempatan mengunjungi kota ramah lingkungan ini serta melihat lingkungan di sana. Pada awal pembangunannya, kota ini menerapkan kota ramah lingkungan berbasis eco industrial park (kawasan industri ramah lingkungan). Ecotown gaya Jepang mensyaratkan, kota berbasis pengolahan sampah sebagai penopang ekonomi melalui konsep 3R {reduce [kurangi], reuse [guna ulang], dan recycling [proses ulang]).

Untuk mewujudkan hal itu, Pemerintah Kota KJtakvusyu membangun pola kemitraantripartit dengan pemerintah, industri, dan perguruan tinggi. Pertama, membangun kompleks daur ulang di Hibiki (Hi-biki Recycling Complex). Pada kawasan ini terlibat tujuh perusahaan pengolah limbah (besi kendaraan tua, kertas, kaca) dengan melibatkan koperasi setempat.

Kedua, membangun pusat kota ramah lingkungan (Eco Town Centre) yang berisi informasi ecotown. Salah satu layanannya memberikan informasi perilaku ramah lingkungan dimulai dari individual di rumah sampai industri.

Ketiga, membangun komite kemitraan yang terdiri dari per-wakilan tujuh belas perusahaan besar dan akademisi, yang bertujuan memperluas konsep kompleks ramah lingkungan (Kitakyushu Eco Complex Concept) tidak hanya di tingkat industri, tetapi juga di tingkat komunitas.

Kriteria kota ramah lingkungan saat ini tidak hanya mengacu pada penerapan konsep 3R saja. Menurut Asosiasi Perencana Wilayah Kota Inggris, kota ramah lingkungan memiliki standar pengembangan berkelanjutan, yaitu dibangun pada daerah baru yang terdiri atas 5.000-10.000 rumah; kawasan lingkungan harus nol karbon selama satu tahun (tidak termasuk emisi transportasi); ruang terbuka hijau minimal 40% dari total seluruh kawasan kota; memiliki fasilitas pengolahan daur ulang dan pemanfaatkan limbah dengan cara baru; sedikitnya terdapat satu kesempatan kerja per rumah yang dapat dicapai oleh trasportasi umum, jalan kaki ataupun bersepeda; terdapat jaringan transportasi yang mudah diakses dari kawasan kota; dan terdapat pusat komunitas sebagai tempat warga menyampaikan aspirasi dalam pengembangan komunitasnya serta lingkungan sekitarnya.

Pembangunan suatu daerah saat sekarang dan mendatang memerlukan sentuhan ramah lingkungan. Misalnya, intensifikasi program penghijauan untuk mencapai ruang terbuka hijau 40% dari total kawasan kota, tersedianya jalur sepeda, jalur pejalan kaki, kendaraan penghubung (shuttle bus) untuk meminimalkan jumlah kendaraan pribadi, rancangan rumah hemat energi, penggunaan biofill untuk pemanfaatan limbah air rumah tangga, pengolahan sampah hijau menjadi kompos untuk keperluan landscape, pemanfaatan biopori untuk meningkatkan resapan dan menyuburkan tanah, dan penggunaan bahan bangunan lokal.

Terlepas dari aspek infrastruktur tersebut di atas, kota ramah lingkungan memerlukan dukungan masyarakat yang mampu membangun kesinambungan kota. Melalui fasilitasi pusat komunitas sebagai tempat berkumpul masyarakat melalui komunitas-komunitas untuk menyalurkan aspirasinya, kota ramah lingkungan dapat dibentuk dan dipertahankan. (Popy Rufaidah, Ketua Program Studi Manajemen FE Unpad, Vice President IMA Jabar Ketua Forum Pemasaran Kota Bandung)***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>